rss

~ Sumber Energi PLTA Jawa Barat Sedang Sakit Parah

Ditulis pada Jumat, 24 November 2017 | Kategori: 105 - Energi Sungai / PLTA | Dilihat 160 kali

Krisis air sudah terasa oleh masyarakat Cekungan Bandung, seperti ketika memasuki musim kemarau. Warga yang semula dapat memenuhi kebutuhan air bakunya dari sungai, kini sudah tak diharapkan lagi karena kualitas air yang semakin menurun. Mata air pun hanya tinggalkan jejak yang terabadikan dalam toponimi, seperti nama-nama geografi Sekelola, Sekelimus, Sekebirus, dll.

Ci Tarum, misalnya, sungai sepanjang 300 kilometer di Provinsi Jawa Barat, yang sumber airnya dari lereng-lereng gunung di sekeliling Cekungan Bandung, merupakan sungai besar dan panjang. Sungai ini memberikan kehidupan bagi jutaan manusia di sekitarnya sekaligus memberikan kehidupan bagi jutaan manusia yang terkait dengan air Ci Tarum.

Dari sawah akan menghasilkan beras. Manfaat beras bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan petani setempat, namun berjuta manusia lain sudah menanti peran petani sawah di sepanjang Ci Tarum dalam pemenuhan pangan bagi kehidupan mereka.

Ci Tarum sudah nyata memberikan kehidupan bagi jutaan manusia sejak lama, dan memberikan kehidupan bagi jutaan manusia yang terkait dengan air Ci Tarum. Aliran air ini semula menjadi nadi peradaban. Sepanjang sungai menjadi pusat-pusat perkembangan budaya, tempat berbagai komunitas warga bertemu, saling tukar barang, dan pengetahuan.

Kebudayaan baru yang datang dari luar kemudian berpadu secara harmonis di muara sungai. Mereka kemudian berkembang menjadi budaya khas yang kemudian berproses seiring waktu dan pemaknaan, budaya itu menjadi milik masyarakat di tempat itu.

Peran Ci Tarum semakin bertambah dengan dibangunnya tiga bendungan untuk PLTA yaitu Jatiluhur, Cirata, dan Saguling untuk energi listrik. Namun kini, keadaan Ci Tarum dan anak-anak sungainya sedang sakit parah.

Pencemaran

Peran Ci Tarum semakin terus berkurang karena penghancuran wilayah sungai dan sungainya yang dilakukan oleh manusia yang sangat memerlukan, bahkan sangat tergantung akan keberadaan sungai itu. Kehancuran di sepanjang sungai ini, mulai dari hulu, tengah, dan hilir. Manusia yang menghancurkan, manusia pulalah yang menderita akibat kehancuran itu.

Kerusakan lingkungan dan penghancuran sungai oleh pencemaran adalah yang terberat. Kehancuran di hulu Ci Tarum karena sistem pertanian dengan tanaman jangka pendek yang sudah tidak mengindahkan lagi aturan negara dan aturan alam. Ketika hujan tiba, air hujan langsung menggerus tanah-tanah pucuk, mengalir ke lembah-lembah, mengendap di dasar sungai dan di dasar bendungan.

Limbah pabrik dan limbah rumah tangga terus digelontorkan langsung ke anak-anak sungai, lalu bermuara di Ci Tarum. Pencemaran sungai yang tidak ada tanda-tanda semakin membaik, telah mengurangi, bahkan di beberapa tempat telah menghilangkan pengetahuan dan praktik masyarakat dalam bersawah dan memelihara ikan di kolam.

Padahal, pada awalnya, dengan kelimpahan air Ci Tarum yang bersih, telah mendorong penduduk untuk menanam padi di sawah yang subur, dan menanam ikan di kolam. Dengan dua kegiatan itu, penduduk terpenuhui kebutuhan pokoknya, yaitu beras, dan kebutuhan protein dari ikan, serta sayuran yang tumbuh di air.

Bahkan pada masa lalu, Ci Tarum menjadi sumber air baku bagi masyarakat, dan sumber protein karena banyaknya ikan di sana. Sekarang, walau Ci Tarum sudah tercemar sangat berat, airnya yang dibendung di Jatiluhur (bendungan Ir H Djuanda), masih bermanfaat bagi pengairan sawah, energi listrik, rekreasi, dan menjadi air baku bagi warga Jakarta.

Tiga masalah

Permasalahan air akan semakin krisis di Cekungan Bandung karena ada tiga hal yang menjadi inti permasalahan. Pertama, lemahnya kontrol dari otoritas negara terhadap penyedotan air tanah, sehingga mengakibatkan berkurangnya cadangan air tanah untuk penduduk sekitar.

Penyedotan air tanah tidak sebanding dengan pengisian ulang air tanah secara alami disebabkan oleh kehancuran lingkungan di seputar Cekungan Bandung. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan muka air tanah dangkal dan dalam. Penurunan muka air tanah itu menyebabkan terjadinya penurunan muka tanah, yang kemudian akan mengganggu konstruksi jalan, bangunan, dan rumah.

Kedua, lemahnya kontrol otoritas negara terhadap pabrik-pabrik. Pencemaran sungai pun menjadi sangat berat, terutama pencemaran dari pabrik-pabrik yang berada di daerah Rancaekek, Majalaya, Banjaran, Cimahi, serta Cimareme. Juga lokasi-lokasi lainnya yang dijadikan tempat membuang limbah secara langsung ke anak-anak sungai Ci Tarum dan ke Ci Tarum.

Ketiga, masih kurangnya kesadaran masyarakat di Cekungan Bandung terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan. Mereka masih banyak yang tidak merasa berdosa mengotori lingkungan, membuang sampah ke anak-anak sungai, yang kemudian akan sampai di Ci Tarum.

Perlu contoh dan teladan

Mengembalikan Ci Tarum kembali bersih, sesungguhnya merupakan perbuatan mulia yang mengandung nilai kemanusiaan. Sambil menunggu keberhasilan usaha-usaha membersihkan Ci Tarum tersebut, perlu ada usaha-usaha jangka pendek sebagai percontohan dalam pengelolaan sungai dan upaya menjernihkan air sungai secara alami, sehingga dapat dipergunakan dengan aman untuk bersawah dan menanam ikan di kolam. Bila percontohan ini dinilai oleh masyarakat dapat menguntungkan secara ekonomi, maka masyarakat akan menirunya.

Menumbuhkan kesadaran otoritas negara dan masyarakat untuk menanam pohon alami di lahan-lahan negara yang sudah kritis, adalah masalah berat yang harus menjadi perhatian utama. Pohon seringkali dianggap menjadi pengganggu dalam usaha pertanian sayur di lahan milik negara.

Karena Ci Tarum berasal dari anak-anak sungai yang datang dari kabupaten dan kota, maka anak sungai akan tetap dipenuhi sampah rumah tangga. Ironisnya, pemerintahan kabupaten dan kota itu kebanyakan belum mempunyai program untuk kampanye kebersihan dan kesehatan lingkungan, khususnya kampanye tidak membuang sampah ke sungai. Jadi, perlu kerja sama antara pemerintahan kota dan kabupaten tersebut.

Masalah air bersih sudah menjadi masalah dan akan semakin menjadi masalah berat ke depan bagi warga di Cekungan Bandung. Oleh karena itu, diperlukan sebuah langkah nyata. Karena permasalahan air yang menjadi kebutuhan utama maka akan merembet pada persoalan lain yang lebih rumit, sosial-ekonomi-politik.

Judul: Krisis Air di Cekungan Bandung

Penulis: T Bachtiar

Link: http://www.pikiran-rakyat.com/kolom/2017/11/04/krisis-air-di-cekungan-bandung-412958