~ UNS Bantu Masyarakat Olah Bio Gas
Kotoran sapi sering dihindari banyak orang karena baunya yang tidak sedap.
Selama ini, para peternak sapi hanya membiarkan kotoran tersebut berdiam di suatu tempat atau hanya digunakan untuk pupuk tanaman tanpa diolah.
Namun dengan pendampingan peneliti Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, peternakan di Dukuh Blimbing Desa Jeruksawit, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar bisa menghasilkan energi dari biogas yang diolah dari kotoran dan urin sapi.
“Permasalahan limbah kotoran ternak sapi sekaligus kelangkaan pupuk tanaman pangan dapat teratasi dengan mengubahnya menjadi sumber energi dan pupuk,” kata peneliti UNS, Ayu Intan Sari, Jumat (19/5/2017).
“Sekaligus ini mengembangkan sistem peternakan ramah lingkungan,” tambahnya.
Ia mengatakan, pihaknya menggunakan teknologi sederhana mengajak masyarakat sebagai peternak untuk meningkatkan nilai ekonomi limbah ternaknya.
Dalam setahun terakhir, peternakan yang didampingi UNS sudah mandiri energi karena memanfaatkan biogas yang dihasilkan dari puluhan sapi yang diternak di tempat itu.
Selain mandiri energi, peternak juga bisa menghasilkan pendapatan tambahan dengan mengolah urin sapi menjadi pupuk alami.
“Jika tiap peternakan terdapat 15 ekor sapi saja, peternakan itu sudah bisa mandiri energi dan menyuplai biogas untuk memasak belasan warga di sekitarnya,” terang Ayu.
Belum lagi pupuk alami yang dihasilkan juga memiliki nilai ekonomis.
Pengolahan Urine menjadi pupuk menurutnya juga menggunakan alat-alat sedehana, agar peternak mau memanfaatkan teknologi yang mudah untuk mendapatkan manfaat yang besar
“Penampung yang kita pakai disini memang dengan teknologi yang sangat sederhana menggunakan drum plastik, dengan harapan ini nanti bisa ditiru oleh peternak, jadi dengan biaya yang tidak terlalu mahal, bisa membuat sendiri,” katanya.
Untuk proses alih teknologi tersebut, tim peneliti UNS memanfaatkan dana Iptek Bagi Masyarakat (IBM) senilai Rp 50 juta.
Dana penelitian tersebut digunakan untuk membangun instalasi biogas ukuran 18 meter kubik untuk menampung feses 15 ekor sapi.
Kemudian untuk perbaikan lantai kandang, perakitan dan pemasangan instalasi penampung urine berkapasitas 100 meter kubik.
Dalam pembuatan biogas, alat yang digunakan sangat sederhana.
Yaitu kotoran sapi padat dicampur dengan air lalu dialirkan ke tempat penampungan.
"Saluran menuju penampungan sudah ada saringannya, jadi kalau ada sisa pakan bisa disaring disitu," ujar Ayu.
Ayu menjelaskan, tiap 1 m3 kotoran sapi yang dicampur air dengan perbandingan sama, akan menghasilkan gas setara 3 kg.
“Bisa menghasilkan biogas untuk penerangan lampu yang bertahan satu malam,” katanya.
Dalam sehari, peternakan itu mampu mengolah sekitar 10 hingga 15 limbah sehingga biogas yang dihasilkan bisa juga dinikmati masyarakat sekitar.
Menurutnya, proses alih teknologi ini, meski sederhana bukan hal yang bisa dicapai dalam waktu singkat.
Karena itu, penyuluhan dan pelatihan terus diberikan kepada peternak.
Agar mereka bisa memproduksi sendiri limbah ternak menjadi biogas dan pupuk cair organik.
“Dari pengolahan pupuk kandang secara sederhana bisa terjadi peningkatan nilai ekonomi sekaligus menjadikan usaha peternakan sapi potong dan pertanian tanaman pangan yang ramah lingkungan,” tutup Ayu.
Judul: UNS Dampingi Peternak Manfaatkan Kotoran Sapi Jadi Energi
Penulis: Imam Saputro
Link: http://solo.tribunnews.com/2017/05/21/uns-dampingi-peternak-manfaatkan-kotoran-sapi-jadi-energi?page=3